Losing You or Letting You Go

Aku menutup mata ku untuk kali ini, aku takut kehilanganmu, tapi ini caraku untuk melepaskanmu. Aneh bukan, aku takut kehilangan tapi aku melepaskanmu.

Satu persatu daun berguguran di musim ini, terduduk di sebuah cafe favoritku mengingatkanku bahwa aku pernah kehilangan orang yang aku kasihi disini.

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, apa tuhan mempertemukan kita karna suatu alasan?

Mengapa semesta seakan akan mendukung pertemuan kita?

Aku pernah pernah bersyukur tuhan mempertemukan kita, tapi aku juga pernah mengutuk pertemuan ini.

Tau tidak, berapa banyak pengorbanan yang sudah aku lakukan ? Demi melihatmu.

Aku bukan tipikal orang yang membahas tentang sebuah pengorbanan, tapi sekali saja aku ingin mengingatkanmu bahwa aku pernah menaruh harapan baik pada dirimu.

Seolah olah aku hanya seperti hembusan angin untukmu, aku ada tapi tidak kau anggap. Kau selalu ber-sajak bahwa kau tak ingin kehilangan angin ini. Tapi kau terus mengabaikanya.

Aku sudah terlalu muak dengan sajak sajak yang pernah mereka katakan. Dan kini kau juga mengatakanya. Kau juga ingin membuatku muak?  Silahkan saja.

Aku selalu berkata ini adalah yang terakhir, tapi tidak pernah menjadi yang terakhir, karna kau selalu datang dengan sifat hangatmu yang menyebalkan. Kau datang dengan senyuman yang dulu pernah menjadi penyemangatku.

Dan bodohnya aku terjatuh lagi, dan lagi padamu. Untuk yang kesekian kalinya

Lucunya kini ketika aku ingin benar benar pergi, aku berharap kau menahanku. Aku masih berharap menjadi bagian yang penting di hidupmu. Ternyata aku salah.

Apa kau masih hidup di dalam bayanganku? Atau aku yang masih hidup dalam bayanganmu?

Tau tidak, aku memang selalu tersenyum, dan akan selalu seperti ini. Tapi kadang kala aku menangis, mengingat kau pernah menjadi salah satu alasan aku menyakiti diriku sendiri.

Ketika aku menyadari sesuatu, seseorang terus berkata ‘ mengapa kau ingin terus terusan menyakiti dirimu sendiri ‘ karna aku tau kau bukan tipikal orang yang seperti ia katakan. Tapi untuk kesekian kalinya aku salah.

Kelemahanku adalah, mempercayai seseorang dengan mudahnya. Bahkan aku percaya padamu, melebihi aku mempercayai diriku sendiri.

Aku memang belum bisa sepenuhnya melepaskanmu, tapi satu hal yang pasti, dimasa depan aku akan siap untuk kehilangan untuk kesekian kalinya.

Terimakasih untukmu yang pernah menjadi semangat pagiku, dan menjadi penutup mimpi indahku. Terimakasih untukmu yang pernah menjadi harapan hidupku, Terimakasih karna pernah melukaiku dan membuatku menjadi lebih kuat. Terimakasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s